Halaman

Untuk Mu Indonesia ku

0 komentar

Oleh : Nurdin

Aku memang belum pernah mengelilingi seluruh keindahan yang ada di bumi pertiwi ini, tapi setidaknya aku sedikit mengenal alam yang berada disekitar ku. dan memang aku begitu terpesona oleh buaiyan awan cikuray, padang edelwis papandayan, padang rumput ungu guntur, kawah galunggung, belaiyan angin dingin gede, pesona puncak sumbing, dan juga pantai-pantai Garut. Dan semuanya membekas dalam ingatan.

Entah berapa ribu keindahan lagi yang tersaji dibumi alam pertiwi ini, yang jelas aku sangat bangga terlahir di bumi pertiwi ini, walau sebagian penduduknya lebih mengagumi Paris, Berlin, Haway dan tempat-tempat indah lainnya.

Bagi ku sendiri mencintai alam Indonesia sama hal nya dengan aku mencintai diri ku sendiri, karena aku dan alam barbanding lurus menuju Tuhan. Walau itu sedikit agak berlebihan, tapi aku rasa tidak disalahkan jika aku mencintai alam Indonesia sama halnya aku mencintai Tuhan, karena alam ini diciptakan oleh Tuhan, dan menjadi kesalahan bila aku merusaknya.

“Alam Mu surga ku” itulah yang sering muncul dibenak ini, bukan tanpa alasan, tapi dengan seribu alasan yang muncul saat mata memandang hamparan alam di puncak sumbing, cikuray, gede, guntur, galunggung dan papandayan, walau hanya sebagian kecil dari alam bumi pertiwi ini dan tidak sedramatis pendakian puncak mahameru lewat film “5 cm” nya, tapi tetap menyimpan seribu alasan untuk ku katakan bahwa alam Mu surga ku.

Bagi ku sendiri perjuangan adalah modal utama untuk bisa dikenang, walau keindahannya tidak berbanding lurus dengan keringat yang dikeluarkan. Tatap langit luas dan berikan sedikit waktu untuk mu menikmati alam bumi pertiwi ini, lalu biarkan diri mu cinta kepada Tuhan, alam dan seluruh kehidupan. Maka tidak ada alasan bagi mu untuk tidak mencintai alam pertiwi ini, apalagi merusaknya.

Aku cinta kepada Indonesia karena aku cinta kepada keberanian hidup, aku cinta kepada pedakian karena aku cinta kepada perjuangan hidup. Dan lihatlah alam bumi pertiwi ini, maka kau akan melihat Tuhan dalam rupa yang sederhana, yang tidak bisa diterjemaahkan dalam basaha apapun.

Love Indonesia ku

MISS WORLD : Ajang eksploitasi kaum wanita

0 komentar

Oleh : Hilman Indrawan (PK. Hima Persis Kab. Bandung)
Wanita dalam islam mendapatkan posisi yang strategis. Banyak dalil yang menjelaskan bahwa islam sangat memuliakan kaum wanita. Bahkan Allah mengabadikan namanya sebagai salah satu surat, yakni surat An-Nisa. kehormatan wanita Allah lindungi melalui hukum islam yang berlaku. seperti dalam surat An-nur:31 yang memerintahkan agar wanita tidak menampakan perhiasannya(aurat).

Perlindungan islam terhadap kaum wanita juga tertera dalam QS Al-Ahzab:59, “........hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu”  . dalam ibnu katsir, maksud dari “agar lebih mudah dikenali” yakni, apabila melaksanakannya (pakai jilbab) maka akan mudah dikenali bahwa mereka itu adalah perempuan merdeka (terhormat), bukan budak perempuan, juga bukan pelacur.

Mengenai ayat tersebut As-Sudi mengatakan  bahwa dahulu kebiasaan orang-orang fasik kota Madinah suka keluar di waktu malam sudah mulai gelap, menuju ke jalan-jalan kota madinah, dengan maksud melihat lihat perempuan. Karena bila malam tiba kebiasaan perempuan-perempuan itu keluar untuk melakukan keperluannya (buang air). Para lelaki fasik itu mempunyai keinginan kepada para perempuan. Apabila mereka melihat perempuan berjilbab maka mereka berkata, “ini perempuan terhormat, tahanlah diri kalian.” Tetapi apabila mereka melihat perempuan tidak berjilbab, maka mereka berkata, “ini budak perempuan.” Segeralah mereka menghampirinya.

Dalam islam, kehormatan seorang wanita dinilai dari ketakwaannya sebagai seorang muslimah. Bukan kecantikan ataupun yang lainnya. Di era liberal seperti saat ini, hukum islam telah dikesampingkan. Perlindungan islam terhadap kehormatan wanita justru dianggap sebagai bentuk diskriminasi. Hal tersebut tentu tidak beralasan dan cenderung dibuat-buat.

Tuduhan diskriminasi yang ditujukan pada islam bersifat skeptis. Karena faktanya liberalisme lah yang melecehkan kehormatan kaum wanita dengan mengobralnya dimana-mana. Sehingga banyak wanita yang dengan mudah dipecundangi pria.

Miss World salah satu jebakannya. Kontes kecantikan yang konon mengutamakan IQ tersebut menjadi salah satu ikon liberalisasi. Disana terdapat misi ideologi yang tidak dapat diterima oleh umat muslim. Pembiasan nilai-nilai susila dan pengingkaran terhadap ajaran agama menjadi salah satu tergetnya.

Miss World hanyalah bentuk eksploitasi kaum wanita. Betapa tidak, kontes ini menjadikan kecantikan sebagai kriteria utamanya. Lebih dari itu, wanita dipaksa untuk memamerkan auratnya di muka umum. Dan mereka “dipaksa” bangga melakukannya. Karena bagi mereka, dengan begitu, derajatnya akan meningkat. Mereka benar-benar tidak menyadari hal itu. Atau bahkan mereka lupa bahwa mereka adalah seorang manusia.

Tahun 2011, sebuah situs perempuan memberitakan adanya sebuah kontes pemilihan vagina terindah di AS. Kontes itu diberi nama “The Most Beautiful Miss V Contest”, yang diselenggarakan oleh sebuah klub di Portland, Oregon. Kononnya, juri dalam kontes itu terdiri atas enam orang selebriti setempat.  Untuk menentukan pemenangnya, si juri dibekali dengan alat kaca pembesar. Akhirnya, setelah melakukan penelitian dengan cermat, terpilihlah seorang juara yang dianugerahi mahkota dan gelar sebagai “Miss Beautiful Vagina 2011”.
Pada 15 November 2012, sebuah situs hiburan di Indonesia menampilkan judul berita: “Kriteria Miss Indonesia 2013 Ikuti Standar Miss World”.  Salah satu anggota tim juri audisi Miss Indonesia 2013 menyatakan: “Karena ini ajang kecantikan, bagaimanapun yang paling penting adalah fisik perlu diperhatikan, seperti wajah, tinggi badan dan proposional berat tubuh.” objeknya sudah jelas, yakni fisik dan ‘keindahan’ wanita.

Melalui kontes ini juga, aspek keuntungan financial menjadi pertimbangan. Banyak pihak yang mengambil keuntungan. Bahkan pemerintah pun menyatakan bahwa adanya kontes tersebut dapat meningkatkan devisa negara. Ketika kehormatan wanita telah dijadikan sebagai sumber keuntungan. Bukankah ini merupakan eksploitasi terhadap wanita? Lalu sebenarnya apa yang didapat kaum wanita dari semua ini? hanya sebuah pelecehan !

Kebiusan Malam Penuh Harapan

0 komentar

Oleh : Nurdin ( Hima Persis bid. Kali'12)

Langit selalu berubah antara terang dan gelap, pergantiannya pun sudah tak dihiraukan lagi oleh seluruh mahluk yang ada dibumi, karena indra-indra (pengalaman) kita menganggap itu satu hal yang biasa dan memang mestinya begitu.

Ya memang, terang dan gelap sudah menjadi dua sisi yang melekat dalam kehidupan, walau berlawanan tapi selalu bergandengan mengisi hari-hari penuh harapan. Dan selalu ada titik tengah antara terang dan gelap atau sebut saja antara siang dan malam, dan titik tengah itu bisa di sebut pagi dan sore.

Pergantian antara gelap menuju terang atau malam menuju siang, pastinya melewati pagi. Dan pagi menjadi tanda bahwa akan adanya siang, begitu pun pergantian antara siang menuju malam pastinya melewati sore. Dengan adanya tanda menuju perubahan itu menjadi peringatan. Orang-orang bisa bangun untuk bekerja di siang harinya, karena di beri tanda dengan hadirnya pagi, dan orang-orang bersiap untuk beristirahat karena adanya tanda sore yang memperingatkan akan hadirnya malam.

Begitupun dengan dua sisi lain yang selalu melekat dalam perjalanan kehidupan, antara senang dan sedih, kanan dan kiri, bahagia dan menderita, tertawa dan menangis, menang dan kalah dan dua sisi yang lainnya.

Semua orang bisa menerima dengan adanya pergantian malam dan siang, tapi jarang sekali bila pergantian itu dari senang menuju sedih, dan ketika dia bersedih selalu menganggap ada hal yang salah. Atau semua orang akan merasa bahagia apabila ia terlahir memiliki tangan kanan dan kiri, walau tangan kiri selalu digambarkan dengan kejelekan karena salah satu pekerjaannya dianggap satu hal yang kotor. Tapi tetap saja semua orang tidak ingin tangan kirinya diamputasi. Dan memang mestinya begitu, kita jangan hanya menerima kebaikan, tapi terima juga keburukan, jangan hanya tertawa kesenangan, tapi juga menangis kesakitan.

 Titik tengah menjadi tanda sekaligus penyeimbang, agar kita siap untuk mengahadapi dualitas diri yang silih berganti. Banyak orang yang terjebak dengan kesenangan dan kesedihannya, yang akhirnya menutup mata untuk kehidupan berikutnya. Maka perhatikanlah tanda-tanda sebagai peringatan untuk mu, bila kau menginginkan kehidupan yang lebih baik, entah di dunia ataupun akherat.

Kebiusan malam ini menyimpan segudang cerita dalam kehidupan ku, walau terkadang aku sendiri merasa aneh dengan jalan cerita yang dituturkan Tuhan, tapi aku menerimanya dengan penuh harapan. Harapannya agar kita bisa berkumpul dan bercerita di tempat yang lebih indah, saat Tuhan dapat berbicara dengan bahasa yang sederhana dan kita semua ada dalam dekapan-Nya.

“terima dan syukurilah kebaikan dan keburukan yang ada dalam dirimu, karena semua ciptaan Tuhan. Kesempurnaan hanya bisa terwujud dengan mendekatkan diri dengan Zat yang Mahasempurna” (Nurdin A)

Sabtu 21.34 24-Agustus-2013

Tekad Tiga Pendaki Menuju Puncak Gunung Sumbing

0 komentar

Oleh : Nurdin (Hima Persis Bid. Kail'12)

 Hari itu tanggal 27-08-2013 atau sepuluh hari setelah hari kemerdekaan, aku barsama dua saudara seperjuanganku “Ell whita” dan “Iqbal kudet” dilanda kegalauan hebat. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya terjadi begitu saja, tanpa  bisa menawar dan menolak, maka hadapilah!.

Awalnya merasa gugup, saat aku mendengar bahasa yang tidak aku mengerti di dalam kereta menuju Kutoarjo. Merasa asing tentu saja, tapi itu bukanlah masalah yang sedang aku pikirkan, hal yang lebih mengerikannya lagi kami pergi ketempat yang belum pernah kami singgahi sebelumnya, yaitu Wonosobo (Jawa Tengah) dengan tujuan mendaki gunung Sindoro-Sumbing, tapi akhirnya hanya mendaki gunung Sumbing saja, karena gunung Sindoro katanya sering mengeluarkan gas beracun dengan waktu yang tak tentu dan ditutup sementara. Ya, bermodalkan tekad dan sedikit arahan dari pembimbing akhirnya kami pun berangkat, walau tidak se lancar yang kami harap, tapi semua berjalan begitu mengesankan.

Pagi itu tanggal 29-08-2013 jam 06.30, pendakian dimulai dari Basecamp Sumbing atau tepatnya berada di kaki Gunung Sumbing. Sebelum berangkat mendaki, hal yang sudah biasa dilakukan dan mesti dilalukan adalah berdoa, tentunya memohon kelancaran dan keselamatan, mengingat resiko yang akan dihadapi bukanlah hal yang kecil, sekali ceroboh taruhannya adalah nyawa. Tapi entah kenapa begitu banyak yang hobinya mendaki Gunung, mungkin jawabannya ada dalam diri para pendaki. dan kalau menurut ku ini masalah keberaian dan perjuangan.

Langkah-langkah kecil mulai digerakan, sering aku mendongak ke atas dan mengukur seberapa jauh lagi, tapi aku kira itu hal yang sia-sia karena perjalanan baru saja dimulai. Ucapan “Subhanallah” terdengar saat Iqbal kudet dan Ell whita saat melihat kebelakang, disana terlihat begitu anggunnya gunung Sindoro, dan kami sepakat kalau gunung Sindoro mirip sekali dengan gunung Mahameru, dan sekaligus menjadi penyemangat kami menuju puncak Sumbing. Kali ini aku mengucapkan “Astagfirullah”, melihat trek yang akan kami hadapi semakin menjadi-jadi.

Dari Basecamp menuju pos 1 (Malim) jalurnya relatif mudah, landai dan besar, walau jalurnya begitu panjang. Dari pos 1 (Malim) menuju pos 2 (Genus) sudah mulai menanjak, dengan tikungan-tikungan tajam menyusuri bebukitan. Dari pos 2 (Genus) menuju pos 3 (Seduplak Roto) tanjakan mengerikan dengan pasir tanah yang berdebu, tentunya membuat kami bertiga agak kelabakan melewatinya. Dari pos 3 (Seduplak Roto) menuju Pestan (‘Pasar Setan’ katanya) masih tanjakan, Cuma tidak begitu mengerikan dan berdebu. Dari Pestan menuju Pasar Watu  trek mulai berbatu, dengan tebing-tebing yang  terjal dan menanjak, dan membuat Ell whita sangat kesulitan, walau sudah berpangkat senopati di Mahapala Jirimnya... dari Pasar Watu menuju Watu Kotak treknya hampir sama, Cuma jalannya lebih kecil dan disampingnya tebing yang mengerikan. Kami pun memilih ngecamp di Watu Kotak, mengingat pisik kami sudah benar-benar kelelahan dan waktu sudah mejunjukan jam 15.30, udara pun sudah terasa sangat dingin.

Iqbal kudet pun mengeluarkan tenda dari ranselnya, dengan segera kami pun mendirikan tenda Arei warna biru plus abu dibawah tebing yang menjulang tinggi, disamping kanannya banyak bunga edelweis yang mempesona dan harum walau tak begitu menyengat, di depannya terlihat hamparan kota wonosobo dan magelang, dan yang lebih menakjubkannya lagi terlihat jelas gunung Sindoro dengan awan yang mengelilinginya. Selanjutnya kami pun bergiliran ganti pakaian dengan pakaian hangat, sambil menunggu, aku memasak air untuk dua gelas kopi, dan dilanjutkan masak mie dan nasi.

Tak disangka-sangka hujan turun, walau tidak begitu lebat tapi cukup membuat kami cemas, dan syukurlah itu tak berlangsung lama. Setelah makan, aku berniat untuk menyunut rokok, tapi oleh Ell whita dilarang, akhirnya aku bergegas keluar tenda sambil mengirup udara dingin sore menjelang malam itu, seakan mendapat petunjuk, dan kami harus melihat apa yang dilukiskan Tuhan diatas gunung Sindoro, sungguh membuat ku tercengang. Dan kami pun memutuskan untuk shalat Magrib dan Isya di luar tenda, menghadap matahari terbenam tepat diatas gunung Sindoro yang dikelilingi awan putih, dan aku rasa kedua saudara ku pun mengeluarkan air matanya.
Hari semakin malam, para pendaki itu pun mulai bercerita tentang romantisme hidupnya, dimulai dari Iqbal kudet, lalu Ell whita dan terakhir aku. Walau udara begitu dingin, tapi celotehan para pendaki itu cukup menghangatkan suasana, ditambah dua gelas kopi yang selalu menemani.

Pagi harinya sebelum melanjutkan mendaki, kami disuguhkan lagi dengan pesona gunung Sindoro, terlihat begitu anggun dan indah. Setelah beres sarapan, kami melanjutkan pendakian, tapi kali ini tanpa beban berat dipundak, hanya membawa kantong kecil yang isinya termos kecil, kue, kopi, dua gelas dan snack ringan lainnya, dan Iqbal kudet membawa sebotol air yang berisi 1,5 liter.         

Trek kali ini lebih mengerikan lagi, batu-batu terjal selalu menemani setiap langkah, dengan tebing yang begitu curam, kemiringannya sekitar 75 derajat. Sebelum puncak kami melewati kawasan tanah putih, dipinggir jalan aku melihat ada batu yang tersusun rapi, dan aku kira itu kuburan. Dan kami pun terus berjalan menuju puncak.
Akhirnya kami bertiga bisa berdiri di puncak gunung Sumbing, dengan ketinggian 3371 mdpl, dan merupakan ke tiga puncak tertinggi pulau jawa katanya, setelah gunung Mahameru dan Slamet.

Hamparan alam semakin jelas terlihat, tapi sebelah timur tertutup oleh lautan awan, terlihat dikejauhan sana sebelah kiri gunung Sindoro gunung Slamet, nampak begitu mempesona. Sebelah timur pun terlihat puncak gunung Merbabu dan Merapi bersebelahan,  dan gunung Lawu agak jauh sebelah kiri gunung Merbabu dan Merapi.

Sebuah tekad pun berbuah manis, walau pada akhirnya harus di uji dengan kekurangan materi. Tapi semua bisa teratasi kerena doa serta dukungan yang diberikan anak mahapala yang lainnya.

“sebuah tekad yang akan mendorong melawan resiko”, maka jangan pernah takut melawan resiko, karena resiko orang hidup adalah kematian! Sebuah keniscayaan yang tidak dapat terelakan.  (Nurdin a)

01-09-2013

Maraknya dakwah tak selalu berbanding lurus dengan kualitasnya?

0 komentar

Oleh: Muhammad Busyra, S.Kom.I

Katakanlah: Inilah Jalanku (baca:agamaku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allahdengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orangyang musyrik” (QS. Yusuf [12]: 108). 

Membicarakan tentang dakwah, kiranya tidak akan pernah adahabisnya; selalu saja ada sisi yang bisa kita ungkap, baik itu sisi dai,mad’umaudhu’, media maupun metodenya. Dalam tulisan ini, kita akancoba membincang satu unsur saja, yaitu maudhu’ (baca: pesan, materi, isi,contens). Dakwah merupakan kata yang familiar, terlebih kitaadalah pegiat kampus yang menjelajahi belantara Dakwah dan Komunikasi.

Coretan ini hanyalah refleksi penulis, kala berkenalan denganbangku universitas. Fenomena dakwah yang begitu kentara, secara sadar, mengajakpenulis untuk mau dan mampu menyibak fenomena guna menangkap nuomena. Masukpada substansi dan nilai, tidak puas pada kemasan dan aksesori. Hinggasekali-kali kita perlu mengambil jarak, melakukan objektivasi terhadap rumahbahasa dan makna tempat kita lahir dan tumbuh.

Dewasa ini, dakwah begitu masif. Baik itu mimbar jumat,pengajian di mesjid-mesjid, pengajian keliling di rumah-rumah, pengajianmingguan, pengajian bulanan sungguh kentara. Terlebih dengan bantuan “tanganmedia”, dakwah ini semakin semarak. Media cetak (surat kabar, majalah, buku danbuletin), media elektronik (radio, televisi) bahkan sampai internet pun turutmenghidangkan maudhu’ (baca: pesan dakwah). Sekadar contoh, TVOne denganDamai Indonesiaku, Trans TV dengan Islam itu Indah, Indosiar dengan Mamah danAa, berikut media lainnya. Kita sama-sama menyaksikan, banyak sekalimad’u(baca: penerima dakwah) yang turut andil. Namun sayang, semaraknya mad’uitu tidak diimbangi dengan bobot (baca: kualitas) maudhu’-nya; denganberujung dakwah itu hanyalah “sambil lalu”; dalam bahasa penulis; hanyalahritus-ritus formal.

Dengan demikian, kiranya ada yang mesti kita perbincangkan.Sebenarnya, Ada apa dengan dakwah kita (baca: pendakwah dadakan bukan karenapendakwah didikan)? Apakah gencaran dakwah yang selama ini merebak, sebatasrutinitas tanpa meninggalkan bekas. Sehingga kita mengenal STMJ (Shalat TerusMaksiat Jalan). Kalaulah kita berkaca pada sejarah, Rasulullah Saw., hanyadalam kurun waktu ± 23 tahun, sukses menelurkan dakwahnya, memobilisasi situasiyang carut marut pada kondisi yang beraturan dan tertata rapih.

Di muqadimah, dikutipkan terjemah QS. Yusuf [12]: 108. Padaayat tersebut kiranya adakalimat yang mesti kita perhatikan, yaitu mengajak(kamu) kepada Allah dan hujjah yang nyata. Secara mendasar, dakwahmerupakan jalan Nabi dan para pengikutnya. Yang tentunya mesti ada estapetaperjuang dakwah Nabi – dalam hal ini, maudhu’-nya harus merujuk pada apayang disabdakan oleh Rasulullah, yang kemudian diwaritskan pada ulama. Mengapapenting diperhatikan? Karena tidak sedikit dakwah yang selama ini mencuatkepermukaan – terkadang maudhu’ yang didakwahkannya selalu disisipkanide darida’i (baca: pendakwah, komunikator), yang semestinya itumenyampaikan wahyu tapi malah menyampaikan nafsu (baik itu ide, opini,tindakan) si pendakwah.

Untuk mengantisipasinya, maka da’i itu mestimemperhatikan maudhu’-nya, dengan memastikan dalam maudhu’-nyaitu harus memenuhi dua kriteria berikut ini: (1) dakwah ilal-Llah(mengajak kepada Allah) dan (2) ‘al bashirah (berdasarkan hujjah yangnyata).

Untuk kriteria yang pertama, dakwah ilal-Llah, menurutibnu Katsir, maksudnya adalah dakwah pada syahadat La ilaha illal-Llah (pengakuan/keyakinantiada tuhan selain Allah). Bahkan al-Utsaimin dalam kitabnya al-Qaulul-Mufidsyarh kitab at-Tauhid menegaskan, yang dimaksud dakwah ilal-Llah adalahkeikhlasan karena mengharapkan ridha Allah, tentunya tidak untuk menariksimpati massa sebagai ajang kampanye, populatiras semata dan tidak pula menjadida’i amplop. Dan di sini kiranya dibutuhkan profesionalisme da’i.

Adapun kriteria kedua, ‘ala bashirah, maksudnya, masihmenurut ibnu Katsir adalah berdasarkan pada yaqin (ilmu yang yakin dantidak meragukan) dan burhan (argumentasi yang jelas dan kuat). As-Sa’didalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa ‘ala bashirah itu maksudnyaadalah ‘ala ‘ilmin wa yaqin bilaa syakkin (berdasarkan pada ilmu yangmeyakinkan serta tidak ada unsur keraguan). Adapun ilmu yang dimaksud di siniadalah, masih menurut al-Utsaimin adalah mencakup pada: (1) ilmu agama (baca:syari’at), (2) ilmu tentang mad’u (objek dakwah/.masyarakat), dan (3)ilmu tentang metode dakwah.

Memperhatikan ketiga point di atas, ibnu Qoyyim al-Jauziyyahmenegaskan, bahwa pesan ini tidak bisa dilepaskan dari ayat yang mengajarkantentang dakwah itu sendiri (lihat QS. An-Nahl [16] ayat: 125).
Dalam kaitan dakwah ilmiah ini, hal pertama yang harusdiingat adalah bahwa agama itu, sebagimana tertuang dalam hadits Jibril, yangterdiri dari: (1) Iman [aqidah], (2) Islam [ibadah], dan (3) Ihsan [akhlak].
Memperhatikan ketiga point di atas, maka dapatlah kita tarikbenang merah, fokus utama dalam berdakwah adalah ketiga bidang tersebut. Paraulama memberikan istilah Ilmu Fardlu ‘Ain. Siapa pun orangnya, darilatar belakang apa pun asalnya, dan apa pun pekerjaannya, mesti tanpaterkecuali memahami aqidah, ibadah dan akhlak dengan benar. Penyebarluasandakwah, khususnya dalam aspek ibadah tentunya sangat luas. Mulai dari yang ‘ibadahmahdhah sampai pada perkara halal-haram. Wallahu a’lam.

Lagi, agama bukan hidup tapi makna.

0 komentar

Oleh : Ridwan Rustandi S.Kom.I

“terkadang kita hanya terjebak pada ruang formalitas dan simbolis keagamaan belaka”
-Tagore, Agama Manusia-
Manusia kadang terjebak pada dimensi-dimensi formil yang notabene dijadikan sebagai tameng belaka. Aspek formal yang dimaksud adalah segenap simbol-simbol kehidupan yang dijadikan ukuran dalam keberlangsungan hidup manusia. Untuk memahami agama misalnya, manusia disudutkan pada realitas luar agama tersebut. Realitas  eksternal keagamaan tersebut bisa dilihat dari sejauh mana manusia pada umumnya memandang cara berpakaian sebagai sebuah tolak ukur kesholehan seseorang. Padahal, jauh lebih penting kita memahami agama dari dalam. Agama memberikan satu harapan baru bagi manusia menuju sebuah proses pencerahan dalam  hidup. Saat manusia tersudut pada kebimbangan, tak dapat dipungkiri agama bisa memberikan jawaban. Budha dengan prinsip Dharma dan Adharma, Hindu dengan proses penyuciannya, Kristen dengan Ruhul Qudusnya, dan Islam dengan prinsip Laa ikroha Fiddien-nya. Kesemuanya itu tiada lain adalah sebuah solusi bagi manusia mengarah pada proses pencerahan diri. Sebuah proses penyadaran menuju titik kesadaran.

Atribut-atribut keagamaan yang diamini oleh kebanyakan  manusian sebagai sebuah kebenaran (mislanya cara berpakaian, look by cover, dll), terkadang memberikan dampak sebaliknya. Seharusnya, dengan beragama manusia jadi kenal sesama, tasamuh, toleran, faham  jihad, dan tahu cara memposisikan seseorang dalam dan di luar agamanya. Namun, senyatanya, tak sedikit manusia yang kemudian terjebak pada pemahaman agamanya tersebut. Rasa ego yang dimilikinya  terkadang tak dapat ditahan. Muncul dalam kondisi tertentu. Sehingga, rasa keagamaannya tersebut mengejawantah menjadi sebuah rasa egosentrisme yang menagarah pada rasa paling benar, paling faham dan paling sesuai dengan apa yang ia fahami dalam agamanya. Sikap seperti ini yang kemudian mengarahkan manusia pada perpecahan.

Tragedi Ambon yang sekarang tengah terjadi, adalah sebuah gambaran bagaimana realitas keagamaan kita yang masih rapuh. Prinsip keimanan yang seharusnya terejawantahkan dalam perbuatan seyogianya mencerminkan sebuah sikap hidup yang memberikan kemashlahatan terhadap sesama. Tak peduli orang bersikap apa terhadap kita, baik atau buruk, yang jelas sebagai seorang yang beragama kita memberikan gambaran sebuah sikap hidup yang sesuai dengan prinsip keimanan dalam agama kita. Bukan sebaliknya, tatkala orang berlaku amoral terhadap kita, lantas kita balas dengan sesuatu yang amoral pula. Hal tersebut yang menjadi penyebab rusaknya prinsip keimanan kita. Maka, yang harusnya kita fahami bersama ialah bagaimana kemudian virus-virus pemahaman keagamaan yang tak mementingkan cover menyebar dalam relung hati setiap umat manusia. Dengan begitu, kita tak lagi mengedepankan ego agama kita dan sepenuhnya berlomba mewujudkan sebuah semesta kehidupan yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Baik sebagai seorang individu, sebagai sebuah masyarakat sosial, sebagai indivividu beragama, sebagai individu alam, maupun sebagai umat manusia secara keseluruhan. Formalitas-formalitas keagamaan tersebut yang kemudian harus kita hindari, sehingga pemahaman akan terwujudnya masyarakat madani benar-benar teraktualisasikan secara nyata.

 Niccolo Machiavelli dalam bukunya Discourse menekankan bagaimana seorang manusia faham dan bisa memposisikan dirinya dalam kehidupan masyarakat. Manusia sejati adalah mereka yang kemudian mampu mewujudkan dan mengelaborasikan ego pribadi menjadi semesta kehidupan sosial yang memberikan manfaat bagi umat. Artinya, dalam pandangan Machiavelli manusia sesungguhnya adalah manusia politis. Bukan berarti politik dalam arti destruktif yang seolah manusia harus mengambil kesempatan di atas sebuah kesempitan dan dilakukan untuk kepentingan dirinya semata. Melainkan politis dalam arti konstruktif, yakni manusia yang faham akan kepentingan dirinya sebagai seorang pribadi dan mau mendahulukan kepentingan sosial yang mengarah pada moralitas kehidupan bersama.  Wajar saja, Machiavelli berpandangan demikian, ia menghalalkan manusia bertindak laksana seekor rubah kala mempunyai kepentingan terhadap masyarakat luar untuk mencapai kepentingan dirinya.  Dan berlaku ibarat seekor macan untuk menampakkan keberanian dirinya sebagai manusia unggul. Lagi-lagi, yang harus ditekankan adalah bagaimana manusia itu bisa menahan ambisi kuasanya sehingga ia mampu menyamarkan kepentingan pribadinya dan mendahulukan kepentingan sosial demi kemaslahatan umat. Bukankah Rosulullah sebagai pemberi pencerahan di kalangan Muslim berkata bahwa sejatinya manusia yang unggul adalah mereka yang mampu berhijrah dan menahan dirinya dari ambisi amoral menuju ambisi moralitas kebersamaan (sosial).

Maka, untuk meredam syahwat kemanusiaan yang terkadang tak manusiawi itu adalah dengan senantiasa berpikir jernih, dari fikrroh nafsiyah menuju fikroh iztimaiyyah. Memahami prinsip keimanan yang tauhidul ibadah menuju tauhidul Ummah.

PD HIMA dan HIMI PERSIS Kota Bandung Gelar diskusi kepemudaan.

0 komentar

Pimpinan Daerah Hima Persis Kota Bandung dan Pimpinan Daerah Himi Persis Bandung Raya menggelar diskusi kepemudaan di jalan Kalifah Apo 23, kantor PP PERSISTRI, Sabtu (20/7/13). Dengan mengusung tema “Kaum Muda dan Masa Depan Kepemimpinan Bangsa” menghadirkan mantan walikota Cimahi Itoch Tochija, Iman Setiawan Latief sebagai ketua PD PERSIS kota Bandung dan Imas Karyamah sebagai penasehat PP Pemudi PERSIS.

 Dalam kesempatan tersebut, Itoc lebih menekankan pada peranan pemuda yang belum terlihat dalam membangun bangsa akan tetapi  mempunyai banyak potensi bila digali dengan seksama, “Kondisi pemuda saat ini masih belum prima dan belum masuk kepada suasana yang diandalkan. Namun saya melihat Pemuda saat ini memiliki banyak potensi, manakala pemuda ini dapat bersatu dan memiliki program peningkatan skill mudah-mudahan dapat menjadi modal untuk menjadi manusia unggul penuh dengan optimis” ujarnya. lebih jauh dia menyesalkan dengan perilaku dan perbuatan pemuda yang lebih menonjolkan kekerasan. “Merekalah (pemuda) yang akan menentukan masa depan. Sangat disayangkan jika seorang pemuda saat ini mengandalkan kekerasan untuk meraih sesuatu.” Ujar mantan walikota Cimahi yang menjabat dua periode.
Sementara itu, Iman Setiawan menambahkan bahwa tugas utama pemuda adalah memberikan pengaruh positif serta belajar agar dapat berkembang dalam perkembangan zaman dan jangan ragu  untuk melakukan kebenaran.

Dan berbeda dengan Imas Karyamah yang lebih menekankan pada Intern jiwa pemuda itu sendiri seperti fisik yang kuat, berwawasan luas dan lain sebagainya.
Sementara itu Ridwan Rustandi, ketua PD HIMA PERSIS KOTA Bandung, dalam sambutannya mengatakan bahwa tujuan dari diskusi tersebut melahirkan pemuda yang kreatif “melalui diskusi kepemudaan ini berharap dapat menjadi referensi dalam membentuk karakter pemimpin yang mandiri dedikatifdan revolusioner” Ujarnya.

Oleh : Irfan Murtaqie Zaen / KPI B  5 /UIN SGD Bandung

Mencari CAHAYA di KEGELAPAN

0 komentar

Cahaya,,,,
Cahaya membuat semua nampak jelas!!
Sebuah cahaya yang diterima oleh benda tertentu akan dipantulkan pada apa yang berada di sekelilingnya termasuk 'mata' kita. Maka sebuah benda akan nampak jelas oleh mata sebagai sebuah benda.

Gelap,,,,sebuah keadaan yang menjadikan segala sesuatu tak dapat dilihat!!
bagaimana mungkin segalanya akan nampak jelas jika saja di sebuah ruang gelap nyaris tanpa cahaya sedikitpun. Dan benda tidak menerima sedikitpun cahaya, maka ia tak mampu memantulkan cahaya pula.


L. Lantas Apa yang akan kita temukan dalam keGELAPan??Dengan sebuah tanda tanya mari kita berjalan.
terkadang kita lebih nyaman berada dalam keadaan penuh dengan cahaya. Karena dengan cahaya kita mampu meihat benda di sekeliling kita. Namun, terkadang kita lupa pada sang penyinar.
baik kita buktikan,,,!!
Dalam sebuah ruangan di malam hari kita di sinari oleh lampu "neon" misalkan,,kita nyaman dengan keadaan itu tanpa menghiraukan sedikitpun pada neon itu. padahal ialah yang telah membuat ruang menjadi tanpak jelas. 
Dan harus kita akui, ketika lampu mulai kehilangan cahyanya,,barulah kita protes akan keadaan. dan berusaha membuang lampu yang mulai kehilangan cahayanya itu.
#Sangat sedikit yang peduli.

Kita selalu merasa nyaman dengan keadaan keadaan kita saat ini. Perjuangan hanya jadi cerita buhun.
menikmati sebuah kenyamana merupakan sebuah kewajaran. namun memperjuangkan sebuah kenikmatan merupakan kemestian yang harus selalu di upayakan.

kita harus selalu mencari "cahaya" walaupun ruang telah terang.
kita harus mempunyai cahaya yang harus selalu menjadi tujuan.
dan bukan sekedar cahaya,namun Dia yang menciptakan sebuah cahaya yang menjadi sumber segala macam 'cahaya'.

,,,,,

Kita selalu merasa nyaman dengan cahaya kecil nan redup. Gemerlap dan kemilau dunia hanya sebuah kalimat penutup redupnya Dunia yang hampir kehilangan cahaya, bahkan mungkin sebenarnya TELAH kehilangan Cahaya!!!
......
.....,

cahaya merupakan sebuah simbol yang digunakan untuk sebuah kebaikan,,terkadang! itupun entah siapa yang mengawalinya. [kebaikan disimbolkan dengan sebuah cahaya]. mungkin karena itu ada dalam sebuah catatan. bisa jadi.
.....



#catatanyangbelumrampung