Halaman

Tekad Tiga Pendaki Menuju Puncak Gunung Sumbing

0 komentar

Oleh : Nurdin (Hima Persis Bid. Kail'12)

 Hari itu tanggal 27-08-2013 atau sepuluh hari setelah hari kemerdekaan, aku barsama dua saudara seperjuanganku “Ell whita” dan “Iqbal kudet” dilanda kegalauan hebat. Hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya terjadi begitu saja, tanpa  bisa menawar dan menolak, maka hadapilah!.

Awalnya merasa gugup, saat aku mendengar bahasa yang tidak aku mengerti di dalam kereta menuju Kutoarjo. Merasa asing tentu saja, tapi itu bukanlah masalah yang sedang aku pikirkan, hal yang lebih mengerikannya lagi kami pergi ketempat yang belum pernah kami singgahi sebelumnya, yaitu Wonosobo (Jawa Tengah) dengan tujuan mendaki gunung Sindoro-Sumbing, tapi akhirnya hanya mendaki gunung Sumbing saja, karena gunung Sindoro katanya sering mengeluarkan gas beracun dengan waktu yang tak tentu dan ditutup sementara. Ya, bermodalkan tekad dan sedikit arahan dari pembimbing akhirnya kami pun berangkat, walau tidak se lancar yang kami harap, tapi semua berjalan begitu mengesankan.

Pagi itu tanggal 29-08-2013 jam 06.30, pendakian dimulai dari Basecamp Sumbing atau tepatnya berada di kaki Gunung Sumbing. Sebelum berangkat mendaki, hal yang sudah biasa dilakukan dan mesti dilalukan adalah berdoa, tentunya memohon kelancaran dan keselamatan, mengingat resiko yang akan dihadapi bukanlah hal yang kecil, sekali ceroboh taruhannya adalah nyawa. Tapi entah kenapa begitu banyak yang hobinya mendaki Gunung, mungkin jawabannya ada dalam diri para pendaki. dan kalau menurut ku ini masalah keberaian dan perjuangan.

Langkah-langkah kecil mulai digerakan, sering aku mendongak ke atas dan mengukur seberapa jauh lagi, tapi aku kira itu hal yang sia-sia karena perjalanan baru saja dimulai. Ucapan “Subhanallah” terdengar saat Iqbal kudet dan Ell whita saat melihat kebelakang, disana terlihat begitu anggunnya gunung Sindoro, dan kami sepakat kalau gunung Sindoro mirip sekali dengan gunung Mahameru, dan sekaligus menjadi penyemangat kami menuju puncak Sumbing. Kali ini aku mengucapkan “Astagfirullah”, melihat trek yang akan kami hadapi semakin menjadi-jadi.

Dari Basecamp menuju pos 1 (Malim) jalurnya relatif mudah, landai dan besar, walau jalurnya begitu panjang. Dari pos 1 (Malim) menuju pos 2 (Genus) sudah mulai menanjak, dengan tikungan-tikungan tajam menyusuri bebukitan. Dari pos 2 (Genus) menuju pos 3 (Seduplak Roto) tanjakan mengerikan dengan pasir tanah yang berdebu, tentunya membuat kami bertiga agak kelabakan melewatinya. Dari pos 3 (Seduplak Roto) menuju Pestan (‘Pasar Setan’ katanya) masih tanjakan, Cuma tidak begitu mengerikan dan berdebu. Dari Pestan menuju Pasar Watu  trek mulai berbatu, dengan tebing-tebing yang  terjal dan menanjak, dan membuat Ell whita sangat kesulitan, walau sudah berpangkat senopati di Mahapala Jirimnya... dari Pasar Watu menuju Watu Kotak treknya hampir sama, Cuma jalannya lebih kecil dan disampingnya tebing yang mengerikan. Kami pun memilih ngecamp di Watu Kotak, mengingat pisik kami sudah benar-benar kelelahan dan waktu sudah mejunjukan jam 15.30, udara pun sudah terasa sangat dingin.

Iqbal kudet pun mengeluarkan tenda dari ranselnya, dengan segera kami pun mendirikan tenda Arei warna biru plus abu dibawah tebing yang menjulang tinggi, disamping kanannya banyak bunga edelweis yang mempesona dan harum walau tak begitu menyengat, di depannya terlihat hamparan kota wonosobo dan magelang, dan yang lebih menakjubkannya lagi terlihat jelas gunung Sindoro dengan awan yang mengelilinginya. Selanjutnya kami pun bergiliran ganti pakaian dengan pakaian hangat, sambil menunggu, aku memasak air untuk dua gelas kopi, dan dilanjutkan masak mie dan nasi.

Tak disangka-sangka hujan turun, walau tidak begitu lebat tapi cukup membuat kami cemas, dan syukurlah itu tak berlangsung lama. Setelah makan, aku berniat untuk menyunut rokok, tapi oleh Ell whita dilarang, akhirnya aku bergegas keluar tenda sambil mengirup udara dingin sore menjelang malam itu, seakan mendapat petunjuk, dan kami harus melihat apa yang dilukiskan Tuhan diatas gunung Sindoro, sungguh membuat ku tercengang. Dan kami pun memutuskan untuk shalat Magrib dan Isya di luar tenda, menghadap matahari terbenam tepat diatas gunung Sindoro yang dikelilingi awan putih, dan aku rasa kedua saudara ku pun mengeluarkan air matanya.
Hari semakin malam, para pendaki itu pun mulai bercerita tentang romantisme hidupnya, dimulai dari Iqbal kudet, lalu Ell whita dan terakhir aku. Walau udara begitu dingin, tapi celotehan para pendaki itu cukup menghangatkan suasana, ditambah dua gelas kopi yang selalu menemani.

Pagi harinya sebelum melanjutkan mendaki, kami disuguhkan lagi dengan pesona gunung Sindoro, terlihat begitu anggun dan indah. Setelah beres sarapan, kami melanjutkan pendakian, tapi kali ini tanpa beban berat dipundak, hanya membawa kantong kecil yang isinya termos kecil, kue, kopi, dua gelas dan snack ringan lainnya, dan Iqbal kudet membawa sebotol air yang berisi 1,5 liter.         

Trek kali ini lebih mengerikan lagi, batu-batu terjal selalu menemani setiap langkah, dengan tebing yang begitu curam, kemiringannya sekitar 75 derajat. Sebelum puncak kami melewati kawasan tanah putih, dipinggir jalan aku melihat ada batu yang tersusun rapi, dan aku kira itu kuburan. Dan kami pun terus berjalan menuju puncak.
Akhirnya kami bertiga bisa berdiri di puncak gunung Sumbing, dengan ketinggian 3371 mdpl, dan merupakan ke tiga puncak tertinggi pulau jawa katanya, setelah gunung Mahameru dan Slamet.

Hamparan alam semakin jelas terlihat, tapi sebelah timur tertutup oleh lautan awan, terlihat dikejauhan sana sebelah kiri gunung Sindoro gunung Slamet, nampak begitu mempesona. Sebelah timur pun terlihat puncak gunung Merbabu dan Merapi bersebelahan,  dan gunung Lawu agak jauh sebelah kiri gunung Merbabu dan Merapi.

Sebuah tekad pun berbuah manis, walau pada akhirnya harus di uji dengan kekurangan materi. Tapi semua bisa teratasi kerena doa serta dukungan yang diberikan anak mahapala yang lainnya.

“sebuah tekad yang akan mendorong melawan resiko”, maka jangan pernah takut melawan resiko, karena resiko orang hidup adalah kematian! Sebuah keniscayaan yang tidak dapat terelakan.  (Nurdin a)

01-09-2013