Halaman

Lagi, agama bukan hidup tapi makna.

0 komentar

Oleh : Ridwan Rustandi S.Kom.I

“terkadang kita hanya terjebak pada ruang formalitas dan simbolis keagamaan belaka”
-Tagore, Agama Manusia-
Manusia kadang terjebak pada dimensi-dimensi formil yang notabene dijadikan sebagai tameng belaka. Aspek formal yang dimaksud adalah segenap simbol-simbol kehidupan yang dijadikan ukuran dalam keberlangsungan hidup manusia. Untuk memahami agama misalnya, manusia disudutkan pada realitas luar agama tersebut. Realitas  eksternal keagamaan tersebut bisa dilihat dari sejauh mana manusia pada umumnya memandang cara berpakaian sebagai sebuah tolak ukur kesholehan seseorang. Padahal, jauh lebih penting kita memahami agama dari dalam. Agama memberikan satu harapan baru bagi manusia menuju sebuah proses pencerahan dalam  hidup. Saat manusia tersudut pada kebimbangan, tak dapat dipungkiri agama bisa memberikan jawaban. Budha dengan prinsip Dharma dan Adharma, Hindu dengan proses penyuciannya, Kristen dengan Ruhul Qudusnya, dan Islam dengan prinsip Laa ikroha Fiddien-nya. Kesemuanya itu tiada lain adalah sebuah solusi bagi manusia mengarah pada proses pencerahan diri. Sebuah proses penyadaran menuju titik kesadaran.

Atribut-atribut keagamaan yang diamini oleh kebanyakan  manusian sebagai sebuah kebenaran (mislanya cara berpakaian, look by cover, dll), terkadang memberikan dampak sebaliknya. Seharusnya, dengan beragama manusia jadi kenal sesama, tasamuh, toleran, faham  jihad, dan tahu cara memposisikan seseorang dalam dan di luar agamanya. Namun, senyatanya, tak sedikit manusia yang kemudian terjebak pada pemahaman agamanya tersebut. Rasa ego yang dimilikinya  terkadang tak dapat ditahan. Muncul dalam kondisi tertentu. Sehingga, rasa keagamaannya tersebut mengejawantah menjadi sebuah rasa egosentrisme yang menagarah pada rasa paling benar, paling faham dan paling sesuai dengan apa yang ia fahami dalam agamanya. Sikap seperti ini yang kemudian mengarahkan manusia pada perpecahan.

Tragedi Ambon yang sekarang tengah terjadi, adalah sebuah gambaran bagaimana realitas keagamaan kita yang masih rapuh. Prinsip keimanan yang seharusnya terejawantahkan dalam perbuatan seyogianya mencerminkan sebuah sikap hidup yang memberikan kemashlahatan terhadap sesama. Tak peduli orang bersikap apa terhadap kita, baik atau buruk, yang jelas sebagai seorang yang beragama kita memberikan gambaran sebuah sikap hidup yang sesuai dengan prinsip keimanan dalam agama kita. Bukan sebaliknya, tatkala orang berlaku amoral terhadap kita, lantas kita balas dengan sesuatu yang amoral pula. Hal tersebut yang menjadi penyebab rusaknya prinsip keimanan kita. Maka, yang harusnya kita fahami bersama ialah bagaimana kemudian virus-virus pemahaman keagamaan yang tak mementingkan cover menyebar dalam relung hati setiap umat manusia. Dengan begitu, kita tak lagi mengedepankan ego agama kita dan sepenuhnya berlomba mewujudkan sebuah semesta kehidupan yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Baik sebagai seorang individu, sebagai sebuah masyarakat sosial, sebagai indivividu beragama, sebagai individu alam, maupun sebagai umat manusia secara keseluruhan. Formalitas-formalitas keagamaan tersebut yang kemudian harus kita hindari, sehingga pemahaman akan terwujudnya masyarakat madani benar-benar teraktualisasikan secara nyata.

 Niccolo Machiavelli dalam bukunya Discourse menekankan bagaimana seorang manusia faham dan bisa memposisikan dirinya dalam kehidupan masyarakat. Manusia sejati adalah mereka yang kemudian mampu mewujudkan dan mengelaborasikan ego pribadi menjadi semesta kehidupan sosial yang memberikan manfaat bagi umat. Artinya, dalam pandangan Machiavelli manusia sesungguhnya adalah manusia politis. Bukan berarti politik dalam arti destruktif yang seolah manusia harus mengambil kesempatan di atas sebuah kesempitan dan dilakukan untuk kepentingan dirinya semata. Melainkan politis dalam arti konstruktif, yakni manusia yang faham akan kepentingan dirinya sebagai seorang pribadi dan mau mendahulukan kepentingan sosial yang mengarah pada moralitas kehidupan bersama.  Wajar saja, Machiavelli berpandangan demikian, ia menghalalkan manusia bertindak laksana seekor rubah kala mempunyai kepentingan terhadap masyarakat luar untuk mencapai kepentingan dirinya.  Dan berlaku ibarat seekor macan untuk menampakkan keberanian dirinya sebagai manusia unggul. Lagi-lagi, yang harus ditekankan adalah bagaimana manusia itu bisa menahan ambisi kuasanya sehingga ia mampu menyamarkan kepentingan pribadinya dan mendahulukan kepentingan sosial demi kemaslahatan umat. Bukankah Rosulullah sebagai pemberi pencerahan di kalangan Muslim berkata bahwa sejatinya manusia yang unggul adalah mereka yang mampu berhijrah dan menahan dirinya dari ambisi amoral menuju ambisi moralitas kebersamaan (sosial).

Maka, untuk meredam syahwat kemanusiaan yang terkadang tak manusiawi itu adalah dengan senantiasa berpikir jernih, dari fikrroh nafsiyah menuju fikroh iztimaiyyah. Memahami prinsip keimanan yang tauhidul ibadah menuju tauhidul Ummah.